Gedong Batu
Klenteng Gedong Batu, menurut sejarah adalah lokasi pendaratan Cheng Hoo yang sedang melaksanakan muhibah di tanah Jawa. Gedong Batu, lokasinya memang tepat di bawah bukit Simongan. Bentuk bangunan asli dari tempat ini sudah di pugar dan nyaris tidak tampak bangunan aslinya. Pada bangunan lama terdapat goa yang cukup lebar, di dalam goa tersebut terdapat beberapa makam yang identik dengan pemakaman orang muslim. Makam-makam tersebut adalah tempat pemakaman jasad prajurit Laksamana Cheng Hoo.
Bangunan induk sekarang ini, berupa altar yang sangat besar dan indah, nampaknya sebagai pusat dari pemujaan kepada dewa-dewa sebagaimana yang diyakini para penganut agama Konghuchu.
Kemudian di bangunan sebelah Utara, dulu terdapat makam yang identik dengan bentuk pemakaman seorang muslim. Makam tersebut diyakini sebagai makamnya juri mudi Kapal Cheng Hoo yang beragama Islam. Namun, pemakaman itu sekarang keberadaan di tutupi altar sembahyangan. Sehingga tidak tampak dari depan. Sedangkan surau kecil berada disamping makam, nampaknya sudah dihilangkan.
Kemudian di sebelah Selatan dari bangunan bersejarah ini, menurut keterangan juri kunci juga terdapat beberapa makam, tetapi makam-makam tersebut sudah di bongkar. Masih di sekitar bangunan sebelah selatan Gedung Batu, terdapat jangkar yang sangat besar. Biasa disebut dengan nama Kyai Jangkar. Ini pun sebagai tempat pemujaan bagi pemeluk agama Konghucu.
Perayaan Muhibah ChengHoo
Ketika, bukit Simongan dikuasai oleh seorang Yahudi, orang-orang Thionghoa yang akan melakukan sembahyangan di Klenteng peninggalan Cheng Hoo, mereka ditarik upeti. Rasa tidak nyaman ini, justru menimbulkan ide untuk membuat replika Klenteng Cheng Hoo. Klenteng tiruan itu dikenal dengan nama Klenteng Tay Kak Sie yang lokasinya di Gang Pinggir komplek Pecinan Semarang.
Setiap tahunnya, terutama menjelang Hari Raya Tahun Baru Imlek, Klenteng Tay Kak Sie menggelar peringgatan kedatangan Cheng Hoo di Tanah Jawa. Acara perayaan dimulai dari depan Klenteng Tay Kak Sie menuju Gedung Batu.
Suasana perayaan tesebut memang tampak meriah. Berbagai rupa tabuhan khas pecinan meramaikan suasana diiringi kesenian barongsai. Pada barisan depan adalah peserta acara yang memainkan sebagai pasukan kekaisaran, di mana kostum yang mereka pakai dominan warna merah dan kuning dan bertopi seperti pasukan jaman kekaisaran cina. Kemudian diikuti para pemandu patung yang konon, berat patung itu sama dengan berat bongkahan batu yang sangat besar sehingga harus dipikul oleh banyak orang yang memang nampak seperti membawa beban berat. Kemudian berbagai macam rupa bendera-bendera khas pecinan yang didominasi gambar naga. Yang menjadi agak aneh adalah terdapat kuda tetapi tidak ditunggangi. Kuda itu dituntun bergantian oleh orang-orang yang berwajah sangar. Wajah mereka digambar seperti wajah-wajah setan. Dulu, konon, setelah sampai di depan klenteng Gedung Batu, kuda dilepas dan dikejar ramai-ramai sambil dipukuli hingga kuda itu mati kelelahan dan kesakitan akibat pukulan-pukulan. Namun, sekarang tradisi tersebut sudah dihilangkan, kuda turut dalam rombongan peserta perayaan, sampai dilokasi Kuda di istirahatkan dan tentu saja juga diberi makan dan minum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
HTML http:www.Fathurohman69@yahoo.com>